Friday, April 15, 2011

Kisah si Batu Besar

Hari demi hari telah berlalu, bulan demi bulan lewat begitu saja bagaikan jam yang bergulir seiring dengan perpindahan sang mentari di cakrawala. Semua berlalu begitu saja, bagaikan air sungai yang mengalir dari puncak Gunung Nemangkawi. Sungguh aneh rasanya menjadi sesuatu yang hanya dapat menatap dengan bisu, tanpa kata dan tanpa suara. Aku hanya dapat menjadi saksi dalam kesunyian, menjadi bagian dari rekaman kenangan. Aku hanya dapat melihat dan mendengar.

Seiring dengan perjalanan waktu, semua dapat berubah dengan begitu cepat, secepat hari yang berganti menjadi malam. Aku masih ingat semua canda tawa yang keluar dari anak-anak itu. Aku masih dapat merasakan telapak kaki mereka yang menapak diriku dengan penuh semangat dan gairah. Dalam keheningan, aku menyaksikan kedewasaan mereka. Perlahan, telapak-telapak kaki itu tidak lagi mungil.

Aku senang, sekaligus sedih. Anak-anak ini tumbuh dengan pesat. Namun aku tahu, semakin mereka bertumbuh dewasa, semakin dekat hari kepergian mereka dari tempat ini. Dan aku hanya dapat menyaksikan dengan diam. Ingin rasanya aku mengucapkan sepatah kata untuk melepas kepergian mereka, namun apa daya. Aku hanya sesosok batu besar yang bisu.

Dan sekarang, lihatlah aku. Perlahan, aku terkubur dalam tumpukan sampah. Tubuhku dibubuhi coretan-coretan tak bermakna. Tidak ada yang peduli. Anak-anak itu sudah dewasa, dan kini aku hanya menjadi suatu objek yang berdiri dengan tak berdaya di samping jalan. Tak ada lagi yang datang dengan sekumpulan kisah dan tawa ceria. Kini, mereka yang mengunjungiku adalah mereka yang ingin menunjukkan jati diri mereka. Dalam keheningan, aku menelan segumpalan asap rokok dan sampah-sampah yang menjijikan. Tak ada lagi kumpulan kisah dan tawa ceria. Semuanya telah berubah dengan begitu cepat.

Jika saja aku diberikan suara oleh Yang Maha Kuasa, mungkin sekarang aku akan berteriak sekencang-kencangnya. Aku akan meraung di tengah kesunyian kota ini. Aku akan menceritakan kisah-kisah yang dulu pernah kudengar. Aku akan senantiasa mendoakan keberhasilan anak-anak ini. Aku akan mendoakan kebahagiaan mereka, sebab mereka telah berbagi tawa canda kepadaku.



By: Kezia :)

0 comments: